
Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) merasa pengamanan yang dilakukan
oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) nanti tak perlu
berlebihan. Bahkan dia mengaku tak mau diatur oleh Paspampres dan ingin
tetap bisa blusukan bertemu dengan rakyat.
Namun gaya merakyat
Jokowi ini dinilai membahayakan dirinya sendiri. Meskipun keamanan
Indonesia dalam keadaan kondusif, Jokowi dinilai wajib memenuhi
protokoler keamanan sebagaimana seorang presiden.
Pengamat
intelijen Wawan Hari Purwanto mengatakan, Jokowi harus mengikuti aturan
pengamanan VVIP seorang presiden. Meskipun, ingin bertemu langsung
dengan masyarakat atau blusukan, tempat tersebut harus sudah di
sterilisasi.
"Kalaupun misalnya Pak Jokowi mau merakyat ya
dipersilakan, tapi memang harus dilakukan sterilisasi untuk jaga-jaga
kemungkinan yang akan terjadi. Kalau menjadi kebiasaan di mana dia
terlalu dekat dengan orang-orang tanpa sterilisasi, nanti pasti
dipelajari orang, ini membuka peluang melakukan niat-niat tidak baik
terutama menyangkut keselamatan," kata Wawan saat berbincang dengan
merdeka.com, Minggu (24/8).
Wawan pun mengisahkan tentang Perdana
Menteri Swedia Olof Palme yang memimpin negaranya dengan sangat
egaliter. Sering berjumpa langsung dengan masyarakat tanpa pengawalan
yang ketat. Palme pun harus meninggal dunia karena ditembak oleh orang
tak dikenal saat berjalan kaki usai menonton bioskop.
"Kita harus
belajar, dulu ada Perdana Menteri Swedia Olof Palme, dia sangat
egaliter sekali, pulang jalan kaki, suatu saat dipelajari orang, setelah
pulang nonton bioskop dia ditembak orang," kata Wawan.
Dia tak
melarang agar Jokowi sering blusukan dan bertemu dengan rakyat seperti
yang kerap dilakukan saat menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Namun,
harus dengan aturan sesuai standar keamanan seorang presiden,
tempat-tempat yang dikunjungi harus dilakukan sterilisasi terlebih
dahulu.
"Karena nanti tentu akan ada orang-orang yang
memanfaatkan situasi untuk masuk di celah-celah itu untuk melakukan
penyerangan. Maka itu harus selalu waspada, SOP harus dipegang, meskipun
mau blusukan monggo, tapi harus ada pengamanan ring 1, ring 2, ring 3,
kalau ada yang terobos itu di ring 3 saja, tidak boleh ada pembiaran
atau menjadi melanggar SOP, nanti malah berbahaya," tutur Wawan.
Walaupun
dia mengakui bahwa keamanan di Indonesia cukup kondusif sampai saat ini
jauh dari keadaan yang terjadi di negara-negara berkonflik. Akan
tetapi, potensi terjadinya kejahatan terhadap presiden akan tetap ada
dan harus diwaspadai.
"Tapikan pada 2004 lalu ada latihan yang
sasaran nembaknya Pak SBY, ada upaya pengeboman gubernur Sulawesi
Selatan saat kampanye. zaman Soekarno juga lebih banyak penyerangan
hanya memang tidak dipublish. Sebetulnya zaman Pak Harto juga ada, cuma
memang tidak dipublish," terang dia.
"Ini ya intinya hanya
warning, karena kita kan ingin pencegahan dari pada penindakan, ini
lebih baik mencegah tanpa mengurangi spirit untuk dekat dengan rakyat,"
imbuhnya.
Sumber: Merdeka